Sejarah Dusun Temas
Dusun
Temas adalah salah satu dusun yang terletak di Desa Margoagung Kecamatan
Sumberrejo. Dusun ini termasuk dalam Desa Margoagung yang terbagi atas 3 dusun
lainnya yaitu Ndean dan Manding. Menurut nenek moyang dahulu asal muasal Dusun
Temas ini berasal dari kata emas. Emas yang
di maksud disini bahwasanya ada emas di dalam cungkup kuburan atau tempat untuk meletakkan keranda yang digunakan
untuk menggotong mayat ke pemakaman. Mitos ini sudah menyebar dari mulut ke
mulut oleh masyarakat sekitar. Namun setelah saya menggali beberapa informasi
ada pendapat lain yang mengatakan bahwa ada batu yang di beri nama Lumpang Kenteng. Lumpang berarti tempat
untuk melembutkan biji-bijian misalnya kedelai, beras, atau lainnya. Sebelumnya
3 dusun ini masih terpisah tapi oleh Pemerintah pada Masa Orde Baru di
kelompokkan menjadi satu desa bernama Desa Margoagung.
Mbah
yut atau Mbah Kam, salah satu sesepuh di Dusun Temas berpendapat bahwa di dalam
cungkup kuburan tersebut ada makam
seorang bernama Mbah Enggot, salah satu
lurah desa ini. Lurah atau kepala
desa ini mati nggulat atau mati tuwek dan
dimakamkan di cungkup kuburan
tersebut. Dahulu cungkup tersebut ada ahli warisnya, tetapi sekarang para ahli
waris tersebut sudah meninggal dunia semua, terkecuali Mbah Kasmijan yang juga
baru meninggal kemarin. Ada pepatah nenek moyang terdahulu bahwa “nek gak dimeno tenanan ra oleh emas”.
Mbah Enggot adalah orang asli Dusun Temas. Meskipun di dalam cungkup kuburan terdapat emas yang bisa
membuat kaya namun tidak ada satu orangpun yang berani mengambil emas tersebut,
karena jika berani mengambil emas tersebut akan mendapat kala atau nama lainnya marabahaya atau celaka. Dan sampai sekarang
emas tersebut masih ada di sekitar cungkup
kuburan tersebut.
Mbah
Samidin yang juga salah satu sesepuh Dusun Temas yang berusia sekitar 70 tahun
ini berpendapat bahwa didalam cungkup tersebut tidak ada emasnya melainkan ada
batu yang diberi nama Lumpang Kenteng milik Mbah Enggot yaitu tukang mageri kuburan yang merupakan
warga asli Dusun Temas. Beberapa keturunan Mbah Enggot ini yaitu Mbah Kus, Mbah
Sutar dan Mbah Samduri. Yang masih hidup sampai sekarang yaitu Mbah Sutar dan
Mbah Samduri yang tinggal di Medalem. Dusun Temas ini termasuk dalam Desa
Margoagung. Nama Margoagung sendiri adalah nama yang diberikan oleh pemerintah
setelah Kemerdekaan tahun 1945 atau Orde Baru. Margoagung berasal dari kata Margo yang berarti dalan dan agung yang berarti agung
sekabehane contone banyu, panganan lan lia-liane. Dahulu ada yang
mengatakan cokbrosot, maksutnya yang
menemukan Dusun Temas. Dulu Margoagung ini adalah alas yang kemudian
alasnya di tebas dan dijadikan sebuah desa. Lumpang
kenteng adalah sebuah batu berwarna putih yang terletak di pundung (tanah liat yang menumpuk) dalam
cungkup kuburan yang berbentuk pesagi atau persegi. Menurut mitos
barang siapa yang bisa mengangkat Lumpang
Kenteng tersebut akan cepat kaya. Mbah Enggot ini katanya juga ada di WC
balai desa Margoagung yang letaknya di dekat dengan makam Dusun Temas. Para
prajurit Mbah Enggot tersebut juga menguasai sumur kulon atau sumur yang ada di persawahan sebelah barat yang
mempunyai anak buah bernama Bambang Sumantri. Nama asli Mbah Enggot adalah Nur Syamsudin,
menurut Mbah Sopyan Jatirogo yang merupakan guru tarekhot. Alasan kenapa Mbah
Enggot ini bisa di segani dan kemudia dibuatkan makam sendiri karena Beliau mau
untuk berjuang melawan Belanda dan tidak mempunyai ilmu ghaib apapun.
Nama
Lumpang Kenteng ini berasal dari
sebuah batu yang krowok atau
berlubang yang pada malam hari tepat enek
sing nutuki atau dibunyikan oleh mahluk ghaib yang tidak nampak oleh mata
manusia. Suaranya seperti orang yang sedang mendeplok
di batu tersebut. Jika hendak masuk kedalam harus mengucap salam dan
berkata assalamualaikum darakal mukminin inna
insya allah bikum lakinun. Di dalam cungkup tersebut juga ada makhluk ghaib
bernama Singo Joyo yang tertera pada
kitab beserta musuhnya.
Mbah
Paerah yang juga sesepuh Dusun mengatakan bahwa Mbah Enggot adalah danyang yang dulu pernah di nyadrani. Mbah Enggot beragama islam dan
merupakan prajurit yang berasal dari Tuban karena pernah suatu ketika Mbah
Sopyan mengucap salam dan di jawab oleh Beliau.
Konon katanya dahulu di sekitar samping pemakaman desa Temas ada seekor naga yang mengelilinginya. Namun ada seorang warga yang katanya berhasil menangkap naga tersebut yang kemudian dijadikan sebuah keris. Beliau ternyata hobi dalam hal mistik dan ghaib. Dan akhirnya keris di pegang oleh jogoboyo atau perangkat desa. Dan sekarang orang yang berhasil menagkap naga tersebut sering sakit-sakitan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar