Kamis, 10 September 2015

Cerita Sejarah



Sejarah Dusun Temas

Dusun Temas adalah salah satu dusun yang terletak di Desa Margoagung Kecamatan Sumberrejo. Dusun ini termasuk dalam Desa Margoagung yang terbagi atas 3 dusun lainnya yaitu Ndean dan Manding. Menurut nenek moyang dahulu asal muasal Dusun Temas ini berasal dari kata emas. Emas yang di maksud disini bahwasanya ada emas di dalam cungkup kuburan atau tempat untuk meletakkan keranda yang digunakan untuk menggotong mayat ke pemakaman. Mitos ini sudah menyebar dari mulut ke mulut oleh masyarakat sekitar. Namun setelah saya menggali beberapa informasi ada pendapat lain yang mengatakan bahwa ada batu yang di beri nama Lumpang Kenteng. Lumpang berarti tempat untuk melembutkan biji-bijian misalnya kedelai, beras, atau lainnya. Sebelumnya 3 dusun ini masih terpisah tapi oleh Pemerintah pada Masa Orde Baru di kelompokkan menjadi satu desa bernama Desa Margoagung.
Mbah yut atau Mbah Kam, salah satu sesepuh di Dusun Temas berpendapat bahwa di dalam cungkup kuburan tersebut ada makam seorang bernama Mbah Enggot, salah satu lurah desa ini. Lurah atau kepala desa ini mati nggulat atau mati tuwek dan dimakamkan di cungkup kuburan tersebut. Dahulu cungkup tersebut ada ahli warisnya, tetapi sekarang para ahli waris tersebut sudah meninggal dunia semua, terkecuali Mbah Kasmijan yang juga baru meninggal kemarin. Ada pepatah nenek moyang terdahulu bahwa “nek gak dimeno tenanan ra oleh emas”. Mbah Enggot adalah orang asli Dusun Temas. Meskipun di dalam cungkup kuburan terdapat emas yang bisa membuat kaya namun tidak ada satu orangpun yang berani mengambil emas tersebut, karena jika berani mengambil emas tersebut akan mendapat kala atau nama lainnya marabahaya atau celaka. Dan sampai sekarang emas tersebut masih ada di sekitar cungkup kuburan tersebut.
Mbah Samidin yang juga salah satu sesepuh Dusun Temas yang berusia sekitar 70 tahun ini berpendapat bahwa didalam cungkup tersebut tidak ada emasnya melainkan ada batu yang diberi nama Lumpang Kenteng milik Mbah Enggot yaitu tukang mageri kuburan yang merupakan warga asli Dusun Temas. Beberapa keturunan Mbah Enggot ini yaitu Mbah Kus, Mbah Sutar dan Mbah Samduri. Yang masih hidup sampai sekarang yaitu Mbah Sutar dan Mbah Samduri yang tinggal di Medalem. Dusun Temas ini termasuk dalam Desa Margoagung. Nama Margoagung sendiri adalah nama yang diberikan oleh pemerintah setelah Kemerdekaan tahun 1945 atau Orde Baru. Margoagung berasal dari kata Margo yang berarti dalan dan agung yang berarti agung sekabehane contone banyu, panganan lan lia-liane. Dahulu ada yang mengatakan cokbrosot, maksutnya yang menemukan Dusun  Temas.  Dulu Margoagung ini adalah alas yang kemudian alasnya di tebas dan dijadikan sebuah desa. Lumpang kenteng adalah sebuah batu berwarna putih yang terletak di pundung (tanah liat yang menumpuk) dalam cungkup kuburan yang berbentuk pesagi atau persegi. Menurut mitos barang siapa yang bisa mengangkat Lumpang Kenteng tersebut akan cepat kaya. Mbah Enggot ini katanya juga ada di WC balai desa Margoagung yang letaknya di dekat dengan makam Dusun Temas. Para prajurit Mbah Enggot tersebut juga menguasai sumur kulon atau sumur yang ada di persawahan sebelah barat yang mempunyai anak buah bernama Bambang Sumantri. Nama asli Mbah Enggot adalah Nur Syamsudin, menurut Mbah Sopyan Jatirogo yang merupakan guru tarekhot. Alasan kenapa Mbah Enggot ini bisa di segani dan kemudia dibuatkan makam sendiri karena Beliau mau untuk berjuang melawan Belanda dan tidak mempunyai ilmu ghaib apapun.
Nama Lumpang Kenteng ini berasal dari sebuah batu yang krowok atau berlubang yang pada malam hari tepat enek sing nutuki atau dibunyikan oleh mahluk ghaib yang tidak nampak oleh mata manusia. Suaranya seperti orang yang sedang mendeplok di batu tersebut. Jika hendak masuk kedalam harus mengucap salam dan berkata assalamualaikum darakal mukminin inna insya allah bikum lakinun. Di dalam cungkup tersebut juga ada makhluk ghaib bernama Singo Joyo yang tertera pada kitab beserta musuhnya. 

Mbah Paerah yang juga sesepuh Dusun mengatakan bahwa Mbah Enggot adalah danyang yang dulu pernah di nyadrani. Mbah Enggot beragama islam dan merupakan prajurit yang berasal dari Tuban karena pernah suatu ketika Mbah Sopyan mengucap salam dan di jawab oleh Beliau. 


Konon katanya dahulu di sekitar samping pemakaman desa Temas ada seekor naga yang mengelilinginya. Namun ada seorang warga yang katanya berhasil menangkap naga tersebut yang kemudian dijadikan sebuah keris. Beliau ternyata hobi dalam hal mistik dan ghaib. Dan akhirnya keris di pegang oleh jogoboyo atau perangkat desa. Dan sekarang orang yang berhasil menagkap naga tersebut sering sakit-sakitan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar