Senin, 28 September 2015

TEKS BERITA 1



Suka Nasi Pecel, Namun Kesulitan Komunikasi

                                
blokBojonegoro.com - Meskipun Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Baureno, Kabupaten Bojonegoro jauh dari kota yang berjarak sekitar 30 kilometer, namun sudah mendunia melalui dunia pendidikan. Buktinya empat pelajar Thailand belajar di sekolah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Lamongan itu sejak dua bulan lalu.

Saat blokBojonegoro.com berkunjung ke sekolah tersebut, tidak tampak berbeda pada sekolah pada umumnya. Seusai upacara di halaman sekolah, para siswa mengikuti pelajaran di masing-masing kelasnya. Tetapi di ruang Kepala Sekolah SMKN 1 Baureno, terdapat empat pelajar. Mungkin jika dilihat sekilas tidak jauh berbeda seperti pelajar Indonesia.

Ternyata mereka empat pelajar dari Thailand yang sedang sarapan 'Nasi Pecel' dengan dibungkus daun pisang. Keempat pelajar asal Negara Gajah Putih itu diketahui setelah salah seorang guru SMKN 1 Baureno menunjukkan Paspor mereka. "Namanya sulit, panggilannya juga unik," kata Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Baureno, Imam Wahjono.

Dalam identitas tertulis, Mr. Chokcahi, Matikorn, Thammachon dan Punyagon. "Ada yang dipanggil Chok, Korn, Chun dan Men," sambungnya.

Tidak hanya itu, saat pertama di sekolahan. Para siswa banyak yang tertawa ketika para pelajar asal Negeri Seribu Pagoda itu memperkenalkan diri. Pasalnya kalau di Kota Ledre, 'Chok' identik ucapan jelek. Namun mereka tetap belajar bersama dan menerima mereka seperti pelajar lainnya.

Kepala Sekolah SMKN 1 Baureno, Imam Wahjono menjelaskan, para pelajar Thailand sejak tanggal 31 Juli sampai 30 September belajar di sekolah yang dipimpinnya. Mereka juga diajarkan mengenal budaya, adat istiadat dan lain sebagainya yang berhubungan dengan Bojonegoro.

"Se-Kabupaten Bojonegoro, hanya SMK Negeri 1 Baureno yang ada pertukaran pelajarnya. Serta ada empat pelajar Thailand lainnya belajar di SMK Futuhiyah Mrage, Demak, Jawa Tengah," jelasnya.

Mereka berada di Indonesia terkait  program Southeast Asian Ministers of Education Regional Open Learning Centre (Seamolec-Ovec), Organisasi Kementerian pendidikan se-Asia Tenggara itu akan diadakan selama lima tahun. Kalau tahun ini dengan Thailand, tapi tahun depan rencananya dengan Malaysia. Selain itu dua Negara dari luar Asia Tenggara seperti Germany dan Prancis juga bersedia diajak pertukaran pelajar dengan SMK Negeri 1 Baureno.

"Mereka belajar biasa seperti anak pada umumnya, sebelum pertukaran pelajar ada sinkronisasi mata pelajaran. Karena ada juga anak SMK Negeri 1 Baureno belajar di Thailand," ungkapnya.

Tujuannya selain mengenal dua negara juga persiapan menghadapi Masyarakat Ekonomi Asia (MEA) tahun 2016. Sehingga berdampak ke lembaga lebih besar, sebab para siswa yang berjumlah 1.191 siswa harus bersaing untuk bisa belajar diluar negeri. "Ini bisa menjadi spirit, penyemangat anak-anak untuk bersaing," imbuhnya.
Pasalnya syarat untuk bisa kerja sama pertukaran pelajar luar negeri, sekolahnya harus sudah bekerja sama dengan perusahan besar. Seperti halnya SMK Negeri 1 Baureno sudah bekerja sama dengan Axio, Honda dan perusahan besar lainnya. "Sudah saatnya go internasional, bukan lagi berfikir global," tandasnya.
Tampak para pelajar Thailand tersebut sangat menikmati kesehariannya di Kota Ledre. Selain para pelajar SMK Negeri 1 Baureno ramah, juga banyak makanan yang tidak didapat di negeranya itu.
"Suka makan belut, ikan dan gurami bakar. Tapi suka juga dengan Nasi Pecel," terang salah seorang guru, menirukan Chok (Chokcahi) sapaan akrabnya.
Selain itu para guru yang mengajar juga menggunakan bahasa isyarat, karena perlu memahamkan para siswa luar negeri tersebut. "Belajar Bahasa Indonesia juga, selamat pagi-selamat siang bisa. Tadi belajar otak atik motor," pungkas Chok disampaikan guru SMKN 1 Baureno. [zid/lis]





1.     Mencari hubungan antara struktur teks berita dengan peristiwa yang terjadi :
No.
Struktur Teks
Kalimat dalam Teks
1.
Orientasi
Meskipun Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Baureno, Kabupaten Bojonegoro jauh dari kota yang berjarak sekitar 30 kilometer, namun sudah mendunia melalui dunia pendidikan. Buktinya empat pelajar Thailand belajar di sekolah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Lamongan itu sejak dua bulan lalu.
2.
Peristiwa
Saat blokBojonegoro.com berkunjung ke sekolah tersebut, tidak tampak berbeda pada sekolah pada umumnya. Seusai upacara di halaman sekolah, para siswa mengikuti pelajaran di masing-masing kelasnya. Tetapi di ruang Kepala Sekolah SMKN 1 Baureno, terdapat empat pelajar. Mungkin jika dilihat sekilas tidak jauh berbeda seperti pelajar Indonesia.
Ternyata mereka empat pelajar dari Thailand yang sedang sarapan 'Nasi Pecel' dengan dibungkus daun pisang. Keempat pelajar asal Negara Gajah Putih itu diketahui setelah salah seorang guru SMKN 1 Baureno menunjukkan Paspor mereka. "Namanya sulit, panggilannya juga unik," kata Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Baureno, Imam Wahjono.
Dalam identitas tertulis, Mr. Chokcahi, Matikorn, Thammachon dan Punyagon. "Ada yang dipanggil Chok, Korn, Chun dan Men," sambungnya.
Tidak hanya itu, saat pertama di sekolahan. Para siswa banyak yang tertawa ketika para pelajar asal Negeri Seribu Pagoda itu memperkenalkan diri. Pasalnya kalau di Kota Ledre, 'Chok' identik ucapan jelek. Namun mereka tetap belajar bersama dan menerima mereka seperti pelajar lainnya.
Kepala Sekolah SMKN 1 Baureno, Imam Wahjono menjelaskan, para pelajar Thailand sejak tanggal 31 Juli sampai 30 September belajar di sekolah yang dipimpinnya. Mereka juga diajarkan mengenal budaya, adat istiadat dan lain sebagainya yang berhubungan dengan Bojonegoro.
"Se-Kabupaten Bojonegoro, hanya SMK Negeri 1 Baureno yang ada pertukaran pelajarnya. Serta ada empat pelajar Thailand lainnya belajar di SMK Futuhiyah Mrage, Demak, Jawa Tengah," jelasnya.
Mereka berada di Indonesia terkait  program Southeast Asian Ministers of Education Regional Open Learning Centre (Seamolec-Ovec), Organisasi Kementerian pendidikan se-Asia Tenggara itu akan diadakan selama lima tahun. Kalau tahun ini dengan Thailand, tapi tahun depan rencananya dengan Malaysia. Selain itu dua Negara dari luar Asia Tenggara seperti Germany dan Prancis juga bersedia diajak pertukaran pelajar dengan SMK Negeri 1 Baureno.
"Mereka belajar biasa seperti anak pada umumnya, sebelum pertukaran pelajar ada sinkronisasi mata pelajaran. Karena ada juga anak SMK Negeri 1 Baureno belajar di Thailand," ungkapnya.
Tujuannya selain mengenal dua negara juga persiapan menghadapi Masyarakat Ekonomi Asia (MEA) tahun 2016. Sehingga berdampak ke lembaga lebih besar, sebab para siswa yang berjumlah 1.191 siswa harus bersaing untuk bisa belajar diluar negeri. "Ini bisa menjadi spirit, penyemangat anak-anak untuk bersaing," imbuhnya.
Pasalnya syarat untuk bisa kerja sama pertukaran pelajar luar negeri, sekolahnya harus sudah bekerja sama dengan perusahan besar. Seperti halnya SMK Negeri 1 Baureno sudah bekerja sama dengan Axio, Honda dan perusahan besar lainnya. "Sudah saatnya go internasional, bukan lagi berfikir global," tandasnya.
Tampak para pelajar Thailand tersebut sangat menikmati kesehariannya di Kota Ledre. Selain para pelajar SMK Negeri 1 Baureno ramah, juga banyak makanan yang tidak didapat di negeranya itu.
"Suka makan belut, ikan dan gurami bakar. Tapi suka juga dengan Nasi Pecel," terang salah seorang guru, menirukan Chok (Chokcahi) sapaan akrabnya.
Selain itu para guru yang mengajar juga menggunakan bahasa isyarat, karena perlu memahamkan para siswa luar negeri tersebut. "Belajar Bahasa Indonesia juga, selamat pagi-selamat siang bisa. Tadi belajar otak atik motor," pungkas Chok disampaikan guru SMKN 1 Baureno. [zid/lis]

Sumber : blokBojonegoro.com

3.
Sumber Berita
·         Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Baureno
·         Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Baureno, Imam Wahjono.
·         Mr. Chokcahi, Matikorn, Thammachon dan Punyagon.






2.     Menentukan Ciri Kebahasaan (Keterangan) dalam Teks Berita.


No.
Paragraf ke -
Kalimat ke -
Keterangan
waktu
tempat
tujuan
cara
sebab
alat
1.
I
1
-
SMKN 1 Baureno

-
-
-
2
sejak dua bulan lalu.
berbatasan langsung dengan Kabupaten Lamongan
belajar
-
-
-
2.
II
1
-
-
-
-
-
-
2
Seusai upacara
halaman sekolah dan kelas masing-masing
mengikuti pelajaran



3
-
ruang Kepala Sekolah SMKN 1 Baureno
-
-
-
-
3.
III
1






2

Negara Gajah Putih

Menunjukkan paspor mereka

Paspor
3






4.
IV
1, 2, dan 3
-
-
-
-
-
-
5.
V
1
saat pertama di sekolahan
-
-
-
-
-
2
-
Negeri Seribu Pagoda
-
-
memperkenalkan diri
-
3
-
Kota Ledre
-
-
-
-
4
-
-
belajar
-
-
-
6.
VI
1
31 Juli sampai 30 September

belajar



2
-
Bojonegoro.
mengenal budaya, adat istiadat dan lain sebagainya



7.
VII
-
8.
VIII
1
lima tahun
Indonesia
terkait  program Southeast Asian Ministers of Education Regional Open Learning Centre (Seamolec-Ovec), Organisasi Kementerian pendidikan se-Asia Tenggara
-
-
-
2
tahun ini dan tahun depan
-
-
-
-
-
3
-          
Germany dan Prancis
-
-
-
-
9.
IX


Thailand
belajar
Perrtukaran pelajar
-
-
10.
X
1
2016
-
mengenal dua Negara dan persiapan menghadapi Masyarakat Ekonomi Asia (MEA) .
-
-
-
2
-
-
untuk bisa belajar diluar negeri
-
para siswa yang berjumlah 1.191 siswa harus bersaing
-
3
-
-
menjadi spirit, penyemangat anak-anak untuk bersaing
-
-
-
11.
XI
1
-
-
untuk bisa kerja sama pertukaran pelajar luar negeri
sekolah harus sudah bekerja sama dengan perusahan besar
-
-


2
-
-
-
SMK Negeri 1 Baureno sudah bekerja sama dengan Axio, Honda dan perusahan besar lainnya.
-
-
3
-
12.
XII
1
-
Kota Ledre
-
-
-
-
2
-
13.
XIII
1
-
14.
XIV
1



menggunakan bahasa isyarat
perlu memahamkan para siswa luar negeri tersebut.



2


Belajar Bahasa Indonesia dan belajar otak atik motor







 

3.  Menemukan Ciri Kebahasaan (Verba Transitif dan Verba Perwarta) dalam Teks Berita.

No.
Paragraf
Verba
Transitif
Pewarta
1.
·         Meskipun Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Baureno, Kabupaten Bojonegoro jauh dari kota yang berjarak sekitar 30 kilometer, namun sudah mendunia melalui dunia pendidikan.
·         Buktinya empat pelajar Thailand belajar di sekolah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Lamongan itu sejak dua bulan lalu.
mendunia

2.
·         Saat blokBojonegoro.com berkunjung ke sekolah tersebut, tidak tampak berbeda pada sekolah pada umumnya.
·         Seusai upacara di halaman sekolah, para siswa mengikuti pelajaran di masing-masing kelasnya.
·         Tetapi di ruang Kepala Sekolah SMKN 1 Baureno, terdapat empat pelajar.
·         Mungkin jika dilihat sekilas tidak jauh berbeda seperti pelajar Indonesia.
mengikuti

3.
·         Ternyata mereka empat pelajar dari Thailand yang sedang sarapan 'Nasi Pecel' dengan dibungkus daun pisang.
·         Keempat pelajar asal Negara Gajah Putih itu diketahui setelah salah seorang guru SMKN 1 Baureno menunjukkan Paspor mereka.
·         "Namanya sulit, panggilannya juga unik," kata Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Baureno, Imam Wahjono.
menunjukkan
Kata kepala sekolah smk negeri 1 baureno, imam wahjono.
4.
·         Dalam identitas tertulis, Mr. Chokcahi, Matikorn, Thammachon dan Punyagon.
·         "Ada yang dipanggil Chok, Korn, Chun dan Men," sambungnya.


5.
·         Tidak hanya itu, saat pertama di sekolahan.
·         Para siswa banyak yang tertawa ketika para pelajar asal Negeri Seribu Pagoda itu memperkenalkan diri.
·         Pasalnya kalau di Kota Ledre, 'Chok' identik ucapan jelek.
·         Namun mereka tetap belajar bersama dan menerima mereka seperti pelajar lainnya.
memperkenalkan
menerima

6.
·         Kepala Sekolah SMKN 1 Baureno, Imam Wahjono menjelaskan, para pelajar Thailand sejak tanggal 31 Juli sampai 30 September belajar di sekolah yang dipimpinnya.
·         Mereka juga diajarkan mengenal budaya, adat istiadat dan lain sebagainya yang berhubungan dengan Bojonegoro.
menjelaskan
mengenal

Kepala Sekolah SMKN 1 Baureno, Imam Wahjono
7.
·         "Se-Kabupaten Bojonegoro, hanya SMK Negeri 1 Baureno yang ada pertukaran pelajarnya.
·         Serta ada empat pelajar Thailand lainnya belajar di SMK Futuhiyah Mrage, Demak, Jawa Tengah," jelasnya.


8.
·         Mereka berada di Indonesia terkait  program Southeast Asian Ministers of Education Regional Open Learning Centre (Seamolec-Ovec), Organisasi Kementerian pendidikan se-Asia Tenggara itu akan diadakan selama lima tahun.
·         Kalau tahun ini dengan Thailand, tapi tahun depan rencananya dengan Malaysia.
·         Selain itu dua Negara dari luar Asia Tenggara seperti Germany dan Prancis juga bersedia diajak pertukaran pelajar dengan SMK Negeri 1 Baureno.
-

9.
·         "Mereka belajar biasa seperti anak pada umumnya, sebelum pertukaran pelajar ada sinkronisasi mata pelajaran.
·         Karena ada juga anak SMK Negeri 1 Baureno belajar di Thailand," ungkapnya.
-

10.
·         Tujuannya selain mengenal dua negara juga persiapan menghadapi Masyarakat Ekonomi Asia (MEA) tahun 2016.
·         Sehingga berdampak ke lembaga lebih besar, sebab para siswa yang berjumlah 1.191 siswa harus bersaing untuk bisa belajar diluar negeri.
·         "Ini bisa menjadi spirit, penyemangat anak-anak untuk bersaing," imbuhnya.
menghadapi

11.
·         Pasalnya syarat untuk bisa kerja sama pertukaran pelajar luar negeri, sekolahnya harus sudah bekerja sama dengan perusahan besar.
·         Seperti halnya SMK Negeri 1 Baureno sudah bekerja sama dengan Axio, Honda dan perusahan besar lainnya.
·         "Sudah saatnya go internasional, bukan lagi berfikir global," tandasnya.
-

12.
·         Tampak para pelajar Thailand tersebut sangat menikmati kesehariannya di Kota Ledre.
·         Selain para pelajar SMK Negeri 1 Baureno ramah, juga banyak makanan yang tidak didapat di negeranya itu.
menikmati

13.
·         "Suka makan belut, ikan dan gurami bakar.
·         Tapi suka juga dengan Nasi Pecel," terang salah seorang guru, menirukan Chok (Chokcahi) sapaan akrabnya.
menirukan

14.
·         Selain itu para guru yang mengajar juga menggunakan bahasa isyarat, karena perlu memahamkan para siswa luar negeri tersebut.
·         "Belajar Bahasa Indonesia juga, selamat pagi-selamat siang bisa.
·         Tadi belajar otak atik motor," pungkas Chok disampaikan guru SMKN 1 Baureno. [zid/lis]
mengajar
menggunakan
memahamkan




                                                                                                                                                               
 











Kamis, 10 September 2015

Cerita Sejarah



Sejarah Dusun Temas

Dusun Temas adalah salah satu dusun yang terletak di Desa Margoagung Kecamatan Sumberrejo. Dusun ini termasuk dalam Desa Margoagung yang terbagi atas 3 dusun lainnya yaitu Ndean dan Manding. Menurut nenek moyang dahulu asal muasal Dusun Temas ini berasal dari kata emas. Emas yang di maksud disini bahwasanya ada emas di dalam cungkup kuburan atau tempat untuk meletakkan keranda yang digunakan untuk menggotong mayat ke pemakaman. Mitos ini sudah menyebar dari mulut ke mulut oleh masyarakat sekitar. Namun setelah saya menggali beberapa informasi ada pendapat lain yang mengatakan bahwa ada batu yang di beri nama Lumpang Kenteng. Lumpang berarti tempat untuk melembutkan biji-bijian misalnya kedelai, beras, atau lainnya. Sebelumnya 3 dusun ini masih terpisah tapi oleh Pemerintah pada Masa Orde Baru di kelompokkan menjadi satu desa bernama Desa Margoagung.
Mbah yut atau Mbah Kam, salah satu sesepuh di Dusun Temas berpendapat bahwa di dalam cungkup kuburan tersebut ada makam seorang bernama Mbah Enggot, salah satu lurah desa ini. Lurah atau kepala desa ini mati nggulat atau mati tuwek dan dimakamkan di cungkup kuburan tersebut. Dahulu cungkup tersebut ada ahli warisnya, tetapi sekarang para ahli waris tersebut sudah meninggal dunia semua, terkecuali Mbah Kasmijan yang juga baru meninggal kemarin. Ada pepatah nenek moyang terdahulu bahwa “nek gak dimeno tenanan ra oleh emas”. Mbah Enggot adalah orang asli Dusun Temas. Meskipun di dalam cungkup kuburan terdapat emas yang bisa membuat kaya namun tidak ada satu orangpun yang berani mengambil emas tersebut, karena jika berani mengambil emas tersebut akan mendapat kala atau nama lainnya marabahaya atau celaka. Dan sampai sekarang emas tersebut masih ada di sekitar cungkup kuburan tersebut.
Mbah Samidin yang juga salah satu sesepuh Dusun Temas yang berusia sekitar 70 tahun ini berpendapat bahwa didalam cungkup tersebut tidak ada emasnya melainkan ada batu yang diberi nama Lumpang Kenteng milik Mbah Enggot yaitu tukang mageri kuburan yang merupakan warga asli Dusun Temas. Beberapa keturunan Mbah Enggot ini yaitu Mbah Kus, Mbah Sutar dan Mbah Samduri. Yang masih hidup sampai sekarang yaitu Mbah Sutar dan Mbah Samduri yang tinggal di Medalem. Dusun Temas ini termasuk dalam Desa Margoagung. Nama Margoagung sendiri adalah nama yang diberikan oleh pemerintah setelah Kemerdekaan tahun 1945 atau Orde Baru. Margoagung berasal dari kata Margo yang berarti dalan dan agung yang berarti agung sekabehane contone banyu, panganan lan lia-liane. Dahulu ada yang mengatakan cokbrosot, maksutnya yang menemukan Dusun  Temas.  Dulu Margoagung ini adalah alas yang kemudian alasnya di tebas dan dijadikan sebuah desa. Lumpang kenteng adalah sebuah batu berwarna putih yang terletak di pundung (tanah liat yang menumpuk) dalam cungkup kuburan yang berbentuk pesagi atau persegi. Menurut mitos barang siapa yang bisa mengangkat Lumpang Kenteng tersebut akan cepat kaya. Mbah Enggot ini katanya juga ada di WC balai desa Margoagung yang letaknya di dekat dengan makam Dusun Temas. Para prajurit Mbah Enggot tersebut juga menguasai sumur kulon atau sumur yang ada di persawahan sebelah barat yang mempunyai anak buah bernama Bambang Sumantri. Nama asli Mbah Enggot adalah Nur Syamsudin, menurut Mbah Sopyan Jatirogo yang merupakan guru tarekhot. Alasan kenapa Mbah Enggot ini bisa di segani dan kemudia dibuatkan makam sendiri karena Beliau mau untuk berjuang melawan Belanda dan tidak mempunyai ilmu ghaib apapun.
Nama Lumpang Kenteng ini berasal dari sebuah batu yang krowok atau berlubang yang pada malam hari tepat enek sing nutuki atau dibunyikan oleh mahluk ghaib yang tidak nampak oleh mata manusia. Suaranya seperti orang yang sedang mendeplok di batu tersebut. Jika hendak masuk kedalam harus mengucap salam dan berkata assalamualaikum darakal mukminin inna insya allah bikum lakinun. Di dalam cungkup tersebut juga ada makhluk ghaib bernama Singo Joyo yang tertera pada kitab beserta musuhnya. 

Mbah Paerah yang juga sesepuh Dusun mengatakan bahwa Mbah Enggot adalah danyang yang dulu pernah di nyadrani. Mbah Enggot beragama islam dan merupakan prajurit yang berasal dari Tuban karena pernah suatu ketika Mbah Sopyan mengucap salam dan di jawab oleh Beliau. 


Konon katanya dahulu di sekitar samping pemakaman desa Temas ada seekor naga yang mengelilinginya. Namun ada seorang warga yang katanya berhasil menangkap naga tersebut yang kemudian dijadikan sebuah keris. Beliau ternyata hobi dalam hal mistik dan ghaib. Dan akhirnya keris di pegang oleh jogoboyo atau perangkat desa. Dan sekarang orang yang berhasil menagkap naga tersebut sering sakit-sakitan.